--> Kanjeng Ibad: khikayat | Deskripsi Singkat Blog di Sini

tempat rekresi intelektual dan kazanah keilmuan


Showing posts with label khikayat. Show all posts
Showing posts with label khikayat. Show all posts

Tuesday, June 21, 2016

SECUIL BOIGRAFI KH. M.A. SAHAL MAHFUDZ

SECUIL BOIGRAFI KH. M.A. SAHAL MAHFUDZ

Salah satu tokoh Kiai pesantren yang kita kenal pada abad ke-21 ini adalah Kiai Sahal atau Mbah Sahal. Kiai Sahal adalah satu di antara kiai di Indonesia yang terkenal akan kealimannya. Terbukti walaupun beliau adalah orang yang selalu berpenampilan sederhana dengan seragam kebesaran beliau yaitu kemeja, sarung dan peci hitam layaknya yang sering dipakai oleh para santri, beliau adalah samudera ilmu bagi para santri-santrinya.
 
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Ahamd Sahal bin Mahfudz bin Abdussalam al-Hajaini. Beliau dilahirkan di Kajen, sebuah desa kecil yang terbilang gersang tanahnya yang terletak di sebelah utara kota Pati Jawa Tengah, pada tanggal 17 Desember 1937 dari pasangan Kiai Mahfudz bin Abdussalam al-Hafidz dan Hj. Badi’ah.

Sejak kecil, beliau sudah menjadi yatim. Sehingga masalah pendidikan beliau dibantu dan diberi motivasi oleh paman beliau sendiri dan salah satu Kiai kajen yang terkenal alim dan zuhud, K.H. Abdullah Salam. Beliau bukanlah sosok yang berpendidikan formal tinggi, pendidikan beliau lebih banyak di pesantren dan kajian agama. Sahal kecil lebih banyak dididik oleh pamannya sendiri.
Setelah itu, Sahal muda nyantri di Pesantren Bendo-Pare-Kediri dibawah asuhan Kiai Muhajir, seorang Kiai sepuh yang istiqomah mengajarkan kitab Imam Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din. Kemudian Kiai Sahal melanjutkan nyantri ke Sarang-Rembang, atas rekomendasi Mbah Dullah sang paman yang ingin agar beliau lebih belajar Ilmu Fikih dan Ushul Fikih.

Setelah selesai pulang dari Sarang, beliau dipercaya untuk memimpin pesantren Maslakul Huda, pesantren yang dulunya diasuh oleh sang Ayahanda, KH. Mahfudz Salam dan Perguruan Islam Mathaliul Falah, yang juga dikelola oleh keluarga besar beliau.

Kehidupan beliau banyak dihabiskan di desa tempat beliau lahir sampai akhir hayat beliau, yaitu desa Kajen. Walaupun demikian, beliau adalah sosok yang aktif dalam masalah umat. Terbukti beliau banyak mengikuti organisasi kemayarakat semenjak beliau masih muda. Dimulai dari organisasi kecil di lingkungan Kajen dan Margoyoso Pati, sampai akhirnya beliau menjadi Rais aam PBNU dan MUI sampai beliau wafat pada hari Jumat tanggal 24 januari 2014.

Beliau memiliki istri yang selalu setia menemani sampai akhir hayat beliau, yang bernama Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudz dan seorang putra beserta 3 orang cucu. Dari sekelumit cerita tentang Kiai sahal tersebut, ada banyak hal yang dapat kita pelajari dan ambil contoh dari Kiai Sahal untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Di antaranaya adalah kezuhudan beliau. Paling tidak, ini 5 ekspresi kepribadian Kiai Sahal Mahfudz yang saya amati selama nyantri di Kajen.

1. Seragam Kebesaran
Kiai Sahal termasuk seseorang yang selalu konsisten, termasuk dalam hal berpakaian. Menurut pengamatan saya selama nyantri di Pesantren Putri Al-Badi’iyyah Maslakul Huda, beliau selalu berpakaian sederhana. Pakaian kebesaran beliau adalah sarung dan kemeja. Kemana pun beliau tindakan (pergi), beliau lebih cenderung berbusana sarung dan kemeja. Ini beliau terapkan baik dalam acara resmi maupun nonresmi. Beliau jauh dari atribut-atribut kekiaian yang identik dengan sorban. Dengan “Seragam” kebesarannya tersebut, beliau lebih terlihat sangat sederhana dan ala kadarnya akan tetapi tidak mengurangi kewibawaan beliau.

Kita dapat banyak belajar dari penampilan beliau, bahwa kita tidak bisa hanya semata-mata melihat seseorang hanya dari tampilan luarnya saja, karena seringkali tampilan luar hanyalah tipuan belaka. Kiai yang hanya selalu bersarung kemana-mana itu seorang ulama yang sangat pro aktif dalam mengembangkan ilmu agama. Terbukti beliau banyak menulis tentang pendidikan di pondok pesantren dan masalah Fikih Sosial yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sehingga atas keteguhan beliau dalam memperkenalkan Fikih Sosial kepada masyarakat luas, pada tahun 2003 beliau dipercayai menyandang gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Nanggani (Bertetangga)

Kiai Sahal merupakan sosok yang sangat sederhana dan mempunyai jiwa sosial yang sangat tinggi. Menurut Nyai Nafisah, selaku istri beliau, setiap hari raya Idul Fitri ada istilah silaturrahim antar tetangga, saling berkunjung satu sama lain. Biasanya, rumah seorang kiai, terutama kiai besar seperti Kiai Sahal pastilah banyak yang sowan ke ndalem atau rumah beliau. Akan tetapi, sosok Kiai Sahal tidak ingin dihormati sebagaimana kiai lainnya.

Beliau sangat berjiwa sosial, sehingga beliau memiliki kebiasaan di pagi Idul beliau berkeliling silaturrahim ke setiap rumah tetangganya dan tidak sungkan untuk meminta maaf duluan. Sehingga kebiasaan beliau itu pun menjadi sebuah tradisi di lingkungan sekitar beliau tinggal, bahkan banyak dari para tetangga yang stand by untuk menyambut kedatangan beliau di rumah mereka. Akhlak yang dimiliki kiai besar sekelas Kiai Sahal perlu kita tiru. Ini merupakan ekspresi kerendahan hati dan kezuhudan beliau, dan menegaskan bahwa kemulian seseorang bukanlah dilihat dari kekiaian seseorang atau pun nilai materi lainnya.

2. Istiqomah dan Disiplin

Selain terkenal dengan kepandaian dan kealimannya, beliau juga dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi nilai istiqomah. Dari pengamatan saya sebagai santri beliau, Kiai Sahal merupakan sosok yang sangat disiplin dan menghargai waktu. Seringkali saya melihat beliau duduk di samping ndalem sambil membaca koran. Bahkan untuk hal-hal kecil seperti makan pagi, makan siang dan tidur siang pun, beliau selalu on time. Dari sini saya banyak belajar bahwa kita diberikan waktu 24 jam ini gratis dari Sang Pencipta, tapi bagaimana cara kita bersyukur kepada-Nya dengan cara memanfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya.

Beliau adalah seseorang yang selalu tepat waktu dalam setiap kegiatan. Saya sebagai santri putri yang memang jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk mengaji langsung dengan beliau, sesekali memanfaatkan waktu libur panjang sekolah saat bulan Ramadan ikut mengaji dengan beliau dan ngalap barakah kepada beliau.

Setiap pagi sekitar jam 8 pagi ngaji kitab yang ditulis oleh beliau sendiri, Thariqat al-hushul ‘ala Ghaayat al Wushul yang merupakan syarah dari kitab Lubb al-Ushul yang sangat terkenal tersebut, selalu on time. Walaupun banyak para santri yang belum hadir, kalau sudah waktunya mulai beliau akan langsung memulainya. itu membuat para santri tergopoh-gopoh untuk segera mengikuti pengajian beliau, sehingga para santri yang memang sudah tahu kedisiplinan beliau, mereka akan stand by duluan di ndalem beliau.

3. Peduli Umat

Kiai Sahal adalah seorang kiai yang tidak hanya berkutat di rumah saja untuk mengajar para santrinya. Beliau juga sangat menaruh perhatian yang sangat besar terhadap orang lain. Sehingga melihat keadaaan sekitar yang lumayan mengenaskan, beliau tidak segan-segan hanya menjadikan pesantren sebagai tempat untuk mengaji saja, akan tetapi lebih mempraktikkanya untuk kemaslahatan umat. Itu disebabkan karena beliau adalah orang yang sangat menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pengentasan kemiskinan di daerah sekitar beliau tinggal.

Keadaaan tanah Kajen (desa tempat beliau tinggal) yang sangat gersang tidak memungkinkan warganya untuk bersawah, sehingga lajur ekonominya rendah. Dengan berbagai tekad, Kiai sahal membuat BPPM (Biro pelatihan dan pengembangan Masyarakat) untuk menopang ekonomi rakyat. Biro ini dididrikan agar memudahkan pesantren dalam ikut membantu mengentaskan kemiskinan di desa Kajen. Sampai terlahir BPR Artha Huda Abadi, yang didirikan dengan tujuan mempermudah masyarakat untuk meminjam modal usaha.

4. Menjaga Diri dari Hal-hal yang Bersifat Syubhat

Kiai Sahal adalah sosok yang sangat sederhana, tidak hanya dalam berpenampialn, ini terlihat dari keseharian beliau yang apa adanya. Pada suatu ketika, ibu Nyai Nafisah yang juga seorang aktifis, dipercaya untuk menjadi anggota DPRD Jawa Tengah. Atas izin suami tercinta, Ibu Nyai menjalankan tugas beliau sebagai wakil rakyat, dengan syarat semua gaji yang diperoleh oleh Ibu Nyai jangan dipakai untuk kepentingan pribadi, apalagi untuk makan, karena sifat kehati-hatian Kiai Sahal terhadap barang yang sifatnya syubhat atau tidak jelas asal usul halal haramnya. Sehingga uang tersebut menurut informasi yang saya dengar sebagai santrinya untuk membangun atau merenovasi pondok pesantren Maslakul Huda Putra atau PMH Putra.

Semoga sifat dan sikap beliau dapat menjadi pelajaran hidup bagi kita semua, dan semoga apa yang telah beliau ukir dalam kehidupannya dan memberikan manfaat dan barokah bagi kita semua. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu.


Friday, October 24, 2014

Sejarah Nabi Nuh AS

Sejarah Nabi Nuh AS

Kali ini penulis ingin membagi sejarang tentang Nabi Nuh a.s. semoga saja bermanfaat bagi para pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah para Nabi-nabi Alloh swt.

1. Kata Pengantar

Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa’ala aalihi washahbihi waman walah. La haula wala quwwata illa billah. Kami namakan terjemahan ini dengan judul “Badi’ul ‘Alam fi Qishshati Nuh ‘Alaihissalam” (Alam Baru, Kisah Kehidupan Nabi Nuh As.). Yang mana kami nukil dari kitab Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur karya seorang ulama besar madzhab Syafi’i, al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthiy, atau yang biasa kita kenal dengan Imam Suyuthi.

Sejarah dalam agama Islam merupakan perkara yang penting. Dimana hal tersebut bisa dibuktikan melalu al-Quran sebagai kitab suci agama Islam. Isi kandungan dalam al-Quran sebagian besarnya adalah memuat sejarah, baik sejarah para nabi dan rasul terdahulu serta kaumnya maupun sejarah para orang shaleh. Meskipun begitu bukan berarti al-Quran adalah kitab sejarah.

Bukan hanya menceritakan sejarah para nabi dan rasul, Allah Swt. juga mengamanati kepada generasi selanjutnya untuk memperhatikan pelestarian dan penjagaan peninggalan-peninggalan dari sejarah itu.

Dalam surat al-Isra’ ayat pertama, kenapa Allah Swt. tatkala mengisra’kan hamba terkasihNya -Sayyidina Muhammad Saw.- harus melewati Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha? Hal itu tiada lain karena di balik dua tempat itu terkandung sejarah dan peninggalan sejarah mayoritas para nabi dan rasul terdahulu. Allah hendak melestarikan dan menjaga kedua tempat suci tersebut, yang selanjutnya adalah tugas kita bersama.

Umat-umat agama lain dengan bangga menyebutkan peninggalan-peninggalan nenek moyang mereka sebagai bukti keakuratan sejarah mereka. Kita sebagai umat Islam seharusnya lebih bangga melakukannya. Karena pastinya kita telah meyakini bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah Swt. Namun, ketika kita berbangga diri dengan agama Islam kemudian ada orang yang menanyakan bukti-bukti peninggalan sejarah agama kita, apa yang hendak kita jawab jikalau terhadap peninggalan-peninggalan sejarah itu saja tidak tahu? Atau bahkan ketika peninggalan-peninggalan sejarah agama kita telah dihancurkan, bisa-bisa generasi yang akan datang akan menganggap al-Quran hanya sebagai “buku dongeng” belaka. Lalu salah siapakah kalau nantinya benar-benar terjadi pada generasi penerus kita?

Alhasil, semoga dengan disusunnya kitab-kitab sirah/sejarah oleh para ulama kita terdahulu, dapat menjadikan pelecut bagi kita. Pelecut semangat yang semakin menghausi diri kita untuk lebih giat lagi menggali sejarah-sejarah yang masih bertumpuk di rak-rak perpustakaan, dalam lembaran-lembaran kitab para ulama terdahulu. Ketika kita menyebut sejarah kaum shalihin saja Allah hujankan rahmat, apatah lagi jika menyebut-nyebut sejarah para nabi dan rasul.

Sebagai insan pemilik gudang dosa, al-faqir memohon dengan sangat agar semua tulisanku jangan di-Aamiin-kan sepenuhnya karena tentu yang salah lebih banyak dari yang benar. Koreksi dan kritikan yang membangun sangat kami idam-idamkan. Jazakumullah ahsanal jaza’.

2. Nama Asli Nabi Nuh As.

Dia adalah Nuh bin Lamak bin Matusyalkha bin Idris As. Imam al-Kisai berkata: “Nama sebenarnya Nabi Nuh adalah Abdul Ghaffar atau Yasykur.”

Dinamakan Nuh, menurut suatu pendapat, adalah karena ia melihat anjing yang mempunyai 4 mata. Lalu Nabi Nuh mengatakan: “Anjing ini sangat buruk-menjijikkan.”

Ternyata anjing itu berkata pada Nabi Nuh: “Wahai Abdul Ghaffar, engkau menghina ukiran ataukah Yang Mengukir? Jika hinaan itu kau utarakan pada ukiran, maka jelas (memang demikian adanya). Namun jika itu ditujukan padaku maka aku enggan memilih menjadi anjing. Dan jika hinaan tadi tertuju pada Sang Pengukir maka hinaan itu tidaklah layak, karena Ia Maha Berkehendak atas apa yang dikehendakiNya.”

Oleh karena kata-kata tadi maka Abdul Ghaffar pun terus menangis, menangisi kesalahan dan dosanya. Karena seringnya menangis maka dinamakanlah dia dengan sebutan “Nuh” (menangis). Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh Imam as-Saddi.

3. Awal Mula Diutusnya Nuh As. Sebagai Rasul Allah

Wahb bin Munabbih berkata: “Ketika Nabi Nuh As. berusia 480 tahun datanglah Malaikat Jibril As. padanya. Nabi Nuh As. bertanya: “Siapakah engkau wahai lelaki tampan?”

Jibril As. menjawab: “Saya adalah utusan Tuhan semesta alam, datang padamu membawa risalah. Sungguh Allah telah mengutusmu untuk umatmu.”

Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam QS. Nuh ayat 1:

إِنَّآ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya adzab yang pedih.”

Lalu Jibril As. memakaikan baju mujahidin dan melilitkan sorban kemenangan serta memberinya ikat pinggang “Saiful ‘Azmi” seraya berkata padanya: “Berilah peringatan pada musuh Allah yang bernama Darmasyil bin Fumail bin Jij bin Qabil bin Adam.”

Konon, Darmasyil adalah raja yang lalim. Dia adalah manusia pertama yang memeras arak dan meminumnya, manusia pertama yang bermain judi dan manusia pertama yang membuat baju dengan dihiasi emas. Dia dan kaumnya adalah penyembah 5 berhala; Wad, Siwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr, sebagaimana disebutkan juga nama-nama itu dalam al-Quran.

Berhala-berhala utama ini dikelilingi oleh 1700 berhala lainnya. Berhala itu juga dibuatkan rumah yang dibuat dari marmer berwarna-warni. Setiap satu rumah panjangnya mencapai 1000 dzira’, begitupula lebarnya.

Pada berhala-berhala itu juga terdapat kursi-kursi yang terbuat dari emas. Di dalamnya terdapat berbagai macam perhiasan yang megah. Dan juga ada seorang pelayan yang bertugas melayaninya siang dan malam.

Selain itu, juga diadakan hari raya untuk mereka yang diperingati setiap tahunnya. Keluarlah Nabi Nuh pada hari raya tersebut. Sedangkan mereka menyalakan api di sekitar para berhalanya, mempersembahkan kurban lalu mereka bersujud memuliakan berhala-berhala itu. Dibawakan pula berbagai alat musik, gong ditabuh dan menari-menari berpesta ria sambil meminum arak. Pesta sex pun dilakukan secara terang-terangan. Mereka memperlakukan wanita seperti hewan.

4. Permulaan Dakwah Nabi Nuh As. dan Gelar “Ulul ‘Azmi” yang Pertam

Tatkala Nabi Nuh As. mendatangi kaumnya, ia berdiri di atas jurang seraya menengadahkan kepalanya ke atas seraya berdoa dengan doa wasilah berikut ini:

الهى أسألك أن تنصرني عليهم بنور محمد صلى الله عليه وسلم

“Ya Allah, kumohon pertolongan padaMu dengan berkat Nur Muhammad Saw.”

Melihat jumlah kaum Nabi Nuh As. yang begitu banyaknya, berserulah beliau dengan sekuat tenaga dan berkata: “Wahai kaumku, kedatanganku ini adalah atas perintah dari Tuhan semesta alam. Saya mengajak kalian untuk menyembah hanya kepadaNya dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala itu.”

Seruan Nabi Nuh ini begitu membahana dan menggelegar sehingga terdengarlah dari segala penjuru, dari ujung barat sampai ujung timur. Karena seruannya itu pula berjatuhanlah berhala-berhala itu dari kursinya. Terkagetlah semua pelayan kerajaan. Bahkan sang raja Darmasyil hingga dibuat pingsan oleh seruan itu. Setelah sang raja siuman, ia bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya: “Suara apakah itu?”

Dijawab oleh salah satu dari mereka: “Itu adalah suara seorang lelaki yang bernama Nuh. Dia adalah orang gila yang akalnya sudah tidak normal lagi.”

Akhirnya sang raja memerintahkan para prajuritnya agar membawa Nabi Nuh ke hadapannya. Ketika Nabi Nuh As. sudah berada di hadapannya, sang raja pun bertanya: “Siapa kamu?”

Dijawab: “Saya adalah Nuh, utusan Tuhan semesta alam. Saya datang ke sini membawa risalah agar kalian semua beriman kepada Allah dan meninggalkan semua berhala itu.”

Lalu sang raja berkata: “Jika kamu gila, maka saya akan mengobatimu. Jika kamu fakir, maka saya akan mencukupkan harta untukmu. Dan jika kamu adalah orang yang terlilit hutang, maka saya akan melunasi semua hutangmu.”

Nabi Nuh As. menjawab: “Saya tidak gila, tidak juga fakir, tidak pula terlilit hutang. Saya adalah utusan Tuhan semesta alam.”

Nabi Nuh As. adalah rasul (utusan) Allah yang pertama masuk ke dalam golongan “Ulul ‘Azmi”. Allah mengutusnya kepada kaum Qabil, kaum yang sangat keterlaluan dalam menyembah berhala dan dengan sengaja memperlihatkan kesyirikannya kepada Allah. Karena itulah Nabi Nuh As. mengajak mereka untuk beriman dan mengEsakan Allah semata serta mengajak mereka untuk berikrar dengan kalimat:

لا اله الا الله وأن نوحا رسول الله

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Nuh adalah utusan Allah.”

Ketika sang raja mendengar ucapan itu, menjadi murkalah ia dan berkata: “Seandainya hari ini bukanlah hari raya pasti akan saya bunuh kamu secara mengenaskan.”

5. Istri-Anak Nabi Nuh As. dan Kerasnya Dakwah yang Dihadapinya

Diriwayatkan bahwa, saat itu hanya ada satu orang yang beriman kepada Nabi Nuh As. Dia adalah seorang wanita bernama Amrah. Lalu Nabi Nuh As. menikahinya dan dikarunia 6 orang anak, 3 putra dan 3 putri: Sam Ham, Yafus, Haswah, Sarah dan Bahyurah.

Setelah itu adapula seorang wanita yang beriman , yaitu Wal’ab binti ‘Ajuwel. Ia juga dinikahi oleh Nabi Nuh As. dan dikarunia 2 putra: Balus dan Kan’an. Namun kemudian wanita itu kembali lagi kepada agamanya yang semula setelah ia memeluk Islam.

Kemudian ada lagi beberapa orang yang beriman kepada Nabi Nuh As., sekitar berjumlah 70 orang pria dan wanita.

Setelah itu aktifitas keseharian Nabi Nuh As. adalah terus keluar untuk berdakwah dengan berseru: “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Dan tiada pula sekutu bagiNya.”

Akhirnya keluarlah kaum Nabi Nuh dari rumah mereka masing-masing. Mereka menyambut seruan dakwah Nabi Nuh dengan lemparan batu dan sandal sehingga membuat Nabi Nuh As. pingsan. Mereka pun mengasingkan Nabi Nuh, menyeret dan melemparkannya ke dalam kotoran.

Setelah Nabi Nuh As. siuman, diusaplah wajahnya yang berlumur darah. Segeralah ia beranjak untuk melakukan shalat 2 rakaat dan berdoa:

اللهم اغفر لقومي فانهم لا يعلمون

“Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka belum mengetahuinya.”

Nabi Nuh melakukan dakwahnya hingga sekitar 300 tahun lamanya.

6. Dakwah Nabi Nuh As. dari Masa ke Masa

Setelah kematian Raja Darmasyil, ia pun digantikan oleh anaknya yang bernama Tubin. Sifatnya lebih kejam dari ayahnya. Namun Nabi Nuh As. tak patah arang untuk terus mengajak sang raja dan kaumnya beriman kepada Allah sebagaimana dulu dilakukan juga pada ayah Raja Tubin. Dakwahnya ini berjalan hingga 400 tahun lamanya. Sampai masuk kurun berikutnya, kurun ke-5, tetap saja kaumnya masih dalam keadaan semula.

Setiap mendengar seruan Nabi Nuh mereka sengaja menutupkan telinganya dengan tangan. Sebagaimana difirmankan Allah Swt. dalam al-Quran, mereka mengumpulkan batu-batu di atas loteng. Disaat Nabi Nuh lewat maka mereka akan melemparinya dengan batu tersebut sampai Nabi Nuh jatuh pingsan. Dan mereka sangka Nabi Nuh telah mati. Saat pingsannya itu, burung-burung pun mengibaskan sayapnya sampai siuman. Keadaan dakwah yang seperti ini terus berlangsung hingga melewati kurun ke-6.

Memasuki kurun yang ke-7, Raja Tubin pun telah mati dan digantikan lagi oleh putranya yang bernama Togrodus. Ia adalah raja yang lebih lalim lagi dari ayahnya. Keadaan dakwah Nabi Nuh pun tak jauh berbeda dengan sebelumnya, selalu saja disambut dengan lemparan batu.

Kemudian Allah Swt. mewahyukan pada Nabi Nuh: “Sekarang tiada lagi satupun dari sulbi laki-laki dan dalam rahim wanita yang mau beriman mengikuti dakwahmu.”

Karena itulah kemudian Allah Swt. berkehendak untuk menenggelamkan mereka. Maka berdakwahlah Nabi Nuh As. pada kaumnya dengan membawa kabar bahwa Allah tidak akan menyisakan sedikitpun dari mereka sebagaimana tercantum dalam QS. Nuh ayat 26-27:

وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لا تَذَرْ عَلَى الأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا إِنَّكَ إِن تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلا يَلِدُوا إِلاَّ فَاجِرًا كَفَّارًا

“Nabi Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun diantara orang-orang kafir itu tinggal di atas muka bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.”

Maka terbukalah pintu langit atas doa Nabi Nuh As. dan bergemuruhlah para malaikat.

7. Detik-detik Menjelang Banjir Bandang Pada Masa Nabi Nuh As.

Setelah para malaikat bergerak maka Allah Swt. mewahyukan pada Nabi Nuh As. agar membuat perahu. Bertanyalah Nabi Nuh: “Ya Tuhan, apakah perahu itu?”

Allah Swt. berfirman: “Perahu adalah rumah kayu yang bisa berjalan di permukaan bumi.”

Lalu Allah Swt. memerintahkan Nabi Nuh agar menanam pohon jati di tanah Kufah, pendapat lain mengatakan pohon abnus. Dan kemudian Nabi Nuh pun menanamnya dan membiarkannya tumbuh sampai 40 tahun sampai siap untuk ditebang.

Langit dicegah dari hujan dan bumi pun dicegah untuk menumbuhkan pepohonan. Seingga langit pun tidak lagi meneteskan air hujan dan bumi tak menumbuhkan rerumputan. Para wanita, hewan jinak maupun buas, pun tidak lagi beranak. Bahkan burung-burung pun tak bisa bertelur. Itu terjadi sebagai bukti nyata atas kaum Nabi Nuh sebelum adzab menimpa mereka.

Kemudian Allah Swt. memerintahkan Nabi Nuh untuk menuju Kufah dan memindahkan kayu-kayu jati. Bingunglah Nabi Nuh As., bagaimana cara memindahkan kayu-kayu itu. Maka Allah Swt. pun mewahyukan bahwa sesungguhnya ‘Auj bin ‘Anuq lah yang mampu menggendongnya.

8. Sosok Pembawa Kayu-kayu Perahu Nabi Nuh As.

Imam al-Kisai mengatakan bahwa sesungguhnya ‘Anuq, ibunya ‘Auj, adalah keturunan Nabi Adam yang buruk rupa dan bentuk tubuhnya. Dia adalah tukang sihir yang handal. Dia melahirkan ‘Auj dan mati setelah 100 tahun dari kelahiran anaknya itu.

Ketika ‘Auj sudah dewasa ia berubah wujud menjadi raksasa yang tinggi dan lebar badannya mencapai 600 dzira’. Ukuran 1 dzira’ zaman dahulu adalah setara dengan 1,5 dzira’ sekarang.

Sehingga diceritakan bahwa, tatkala badai banjir tofan tiba takkan bisa sampai pada lututnya, disaat duduk di atas gunung ia bisa memasukkan tangannya ke laut dan bisa mengambil ikan dari dalamnya serta bisa memanggang ikan itu di bawah teriknya matahari. Saat ia marah maka seluruh penduduk desa dikencingi olehnya hingga mereka pun tenggelam di dalamnya.

‘Auj juga seringkali membuat keonaran pada penduduk desa. Maka mereka pun menawari padanya: “Kami akan membuatkanmu baju dan kami tidak akan mengambil harganya kecuali setelah 1 tahun.” (‘Auj memiliki hutang pada penduduk desa itu dan berjanji akan melunasinya).

Akhirnya semua penduduk desa pun bahu-membahu membuatkan baju dari kapas dan memakaikannya pada ‘Auj yang kemudian membuat ‘Auj pergi menjauh dari penduduk desa tersebut. Disaat ‘Auj ingin melewati perkampungan itu ia teringat akan janjinya. Maka ia cepat-cepat lari karena takut ditagih hutangnya.

Dikatakan bahwa ‘Auj hidup selama 4500 tahun, sehingga ia bisa menjumpai zaman Nabi Musa As. Tatkala Nabi Musa As. masuk ke tanah Tih beserta rombongan Bani Israel, ‘Auj pun ingin menghancurkan mereka. Ia datang pada tentara Nabi Musa untuk mengetahui ukuran kekuatan mereka. Disaat ia mendapatkan keleluasaan, maka ia mencabut gunung dan menggendong gunung tersebut di atas kepalanya.

Kemudian ia mendatangi Nabi Musa As. untuk memukul mundur tentaranya. Akan tetapi usaha ‘Auj gagal karena Allah mengutus burung hudhud. Burung hudhud itu memiliki paruh dari besi. Lalu burung hudhud itu meluncur menuju batu (gunung) yang dibawa ‘Auj dan memaruhnya sampai berlubang. Akhirnya batu tersebut pun jatuh ke leher ‘Auj dan membelenggunya sehingga ia tak lagi mampu bergerak.

Disaat Nabi Musa As. melihat kejadian itu maka beliau mendekat dan memukul ‘Auj dengan tongkatnya yang tingginya 10 dzira’. Lantas Nabi Musa As. melompat ke udara setinggi 10 dzira’. Sedangkan tinggi Nabi Musa As. sendiri adalah 10 dzira’. Maka pukulannya Nabi Musa As. pun tidak sampai mengenai lutut ‘Auj. Namun sebab pukulan Nabi Musa As. itu ‘Auj pun terjatuh dan mati tergeletak di lapangan seperti gunung besar.

Diceritakan pula bahwa di Gunung Tatri ada sebuah sungai yang bernama Tha-i. Di sana ada jembatan yang besar. Dikatakan bahwa jembatan itu berasal dari tulang iga ‘Auj bin ‘Anuq, dan hal ini termasuk dalam keajaiban dunia.

9. Peristiwa Pengangkatan Kayu-kayu Perahu Nabi Nuh As. dari Kufah ke Baghdad

Al-Kisai melanjutkan penjelasannya: “Disaat Allah Swt. Mewahyukan Nabi Nuh As. bahwa yang akan (mampu) menggendong kayu-kayu jati dari Kufah ke Desa Hairah di Baghdad adalah ‘Auj. Maka Nabi Nuh As. pun mendatangi ‘Auj dan memintanya untuk menggendong kayu-kayu tersebut.

‘Auj kemudian menjawab: “Aku takkan mau menggendongnya untukmu sehingga kamu mengenyangkan perutku dulu dengan roti.”

Saat itu Nabi Nuh As. hanya membawa 3 potong roti yang terbuat dari gandum dan memberikannya pada ‘Auj 1 iris seraya berkata: “Makanlah roti ini.”

‘Auj kemudian tertawa dan berkata: “Seumpama gunung ini jadi roti, itu pun takkan mampu mengenyangkan perutku. Lalu bagaimana mungkin aku bisa kenyang hanya dengan irisan roti ini?”

Kemudian Nabi Nuh As. memotong irisan roti tersebut dan mengucapkan:“Bismillahirrahmanirrahim. Makanlah.”

Maka ‘Auj memakannya, lalu diberinya lagi seiris roti oleh Nabi Nuh As. Akan tetapi ‘Auj menolaknya karena sudah merasa kenyang hanya dengan memakan setengah irisan roti tadi dan tidak merasa mampu untuk memakannya lagi.

Akhirnya ‘Auj menggendong semua kayu itu dari Kufah sampai Hairah di Baghdad dengan sekali muatan.

10. Proses Pembuatan Perahu Nabi Nuh As. dan Penyempurnanya adalah Nama 4 Khalifah Islam

Ketika kayu-kayu itu sudah berada di hadapan Nabi Nuh, lantas Nabi Nuh As. pun kebingungan seraya berkata: “Wahai Tuhan, bagaimanakah cara untuk membuat perahu?”

Kemudian Allah Swt. memerintahkan Malaikat Jibril As. agar mengajari Nabi Nuh As. membuat perahu. Lalu Nabi Nuh menjadikan kayu-kayu tersebut sebuah papan dan menggabungkannya satu sama lain serta memakunya dengan paku besi. Seterusnya Nabi Nuh As. menjadikan bagian depan (kepala) perahu seperti kepala burung merak, ekornya seperti ekor ayam jago, paruhnya seperti paruh burung gagak, sayapnya seperti sayap elang dan wajahnya seperti wajah burung merpati dan kemudian menjadikannya 3 tingkat, pendapat lain mengatakan 7 tingkat.

Ibnu Abbas Ra. berkata: “Perahu Nabi Nuh As. panjangnya 1000 dzira’, lebarnya 600 dzira’ dan tingginya 300 dzira’.”

Konon Nabi Nuh As. membuat perahu itu selama 40 tahun. Sampai semua kaumnya pun menghina dan meremehkan nabi mereka sendiri dengan berkata: “Wahai Nuh, kamu telah meninggalkan kenabian dan menjadi tukang kayu.”

Imam al-Kisai kemudian berkata bahwa pada suatu malam, kaum Nabi Nuh keluar dan berusaha menyalakan api untuk membakar kayu perahu tersebut. Akan tetapi apinya tidak bisa menyala. Lantas mereka berkata: “Ini adalah sihirnya Nuh.”

Disaat pembuatan perahu sudah hampir jadi, maka Nabi Nuh As. melapisinya dengan aspal. Kemudian Allah Swt. mewahyukan kepadanya agar memberi 4 paku di samping kanan dan kiri perahu dan memberinya ukiran di setiap satu pakunya. Lalu Nabi Nuh As. berkata: “Ya Tuhan, apa faidahnya hal itu?”

Allah berfirman: “Ini adalah nama-nama sahabat Nabi Muhammad Saw. Mereka adalah hamba Allah yang bernama Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Ra. Perahu ini takkan bisa sempurna sehingga engkau melakukan hal tersebut.”

Maka Nabi Nuh As. pun melakukan apa yang diperintahkan Allah Swt. dan jadilah perahu tersebut dengan sempurna.



11. Persiapan Pemberangkatan Perahu Nabi Nuh As.

Setelah perahu Nabi Nuh As. jadi sempurna, dengan izin Allah Swt. ia mampu berbicara dengan keras: “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,Tuhan Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir. Aku adalah perahu, barangsiapa yang menaikiku maka ia akan selamat dan siapa yang enggan padaku maka akan hancur.”

Lalu Nabi Nuh As. berseru kepada kaumnya: “Sudah percayakah kalian sekarang?”

Mereka menjawab dengan angkuh: “Ini adalah sihirmu wahai Nuh!”
Kemudian Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Nuh: “MurkaKu sudah memuncak bagi orang yang mendurhakaiKu.”

Lalu Allah Swt. memerintahkan Nabi Nuh membawa bekal makanan pokok yang cukup untuk 6 bulan dan membuatkan wadah sebagai tempat air tawar. Kemudian Allah Swt. menurunkan bola mata dari surga yang mempunyai cahaya seperti cahaya matahari untuk Nabi Nuh As. Dengan itu Nabi Nuh As. bisa mengetahui pergantian siang dan malam serta lewatnya waktu-waktu.

Nabi Nuh As. kemudian meminta izin kepada Allah Swt. untuk melakukah ibadah haji terlebih dahulu dan Allah Swt. pun mengizinkannya. Maka berangkatlah Nabi Nuh untuk menunaikannya.

Tatkala Nabi Nuh As. menuju Makkah, kaumnya ingin menghancurkan perahu tersebut. Lalu Allah Swt. memerintahkan para malaikat agar mengangkat perahu itu di antara langit dan bumi. Para malaikat pun mengangkatnya dan kaum Nabi Nuh melihat kejadian itu.

Sesampainya Nabi Nuh As. di Makkah beliau langsung thawaf di Baitullah sebanyak 7 kali putaran serta berdoa untuk kaumnya dan Allah Swt. mengkabulkan doanya tadi.

Sewaktu Nabi Nuh As. pulang dari Makkah maka Allah Swt. menurunkan perahu tersebut di atas permukaan bumi (tempat semula). Kemudian Allah mewahyukan kepadanya agar naik ke atas gunung dan berteriak dengan sekeras-kerasnya: “Wahai para hewan liar, burung-burung, para hama-kutu dan semua yang bernyawa, kemarilah dan naiklah kalian semua dalam perahu karena adzab sudah dekat.”

Teriakan Nabi Nuh As. tadi terdengar sampai arah barat dan timur. Sehingga para hewan liar, burung-burung, hewan ternak dan kutu, semuanya berdatangan menghadap Nabi Nuh dengan berduyun-duyun. Kemudian Nabi Nuh As. berkata: “Sungguh aku telah diperintah agar membawa kalian bersamaku secara sepasang-sepasang.”

Lalu Allah Swt. memberi perintah kepada Nabi Nuh untuk membawa semua kayu serta membawa jasad NabiAdam As. dan Siti Hawa. Ditaruhlah jasad keduanya di dalam peti. Nabi Nuh juga membawa hajar aswad dan tongkat Nabi Adam yang dibawa turun dari surga dan menaruhnya dalam peti bersama Tabut, Shuhuf (lampiran-lampiran kitab suci) dan as-Simthu.

Adapun pengikut Nabi Nuh yang bersedia masuk dalam perahu berjumlah 40 orang laki-laki dan 40 orang perempuan dan mereka ditempatkan pada lantai pertama. Sedangkan di lantai kedua penghuninya adalah para hewan liar dan hewan-hewan ternak.

Diceritakan bahwa hewan yang paling akhir memasuki perahu adalah keledai, dikarenakan ekornya diikat oleh Iblis sehingga menjadikannya sulit untuk masuk. Nabi Nuh menyangka bahwa keledai enggan untuk ikut masuk perahu seraya berkata padanya: “Masuklah wahai terkutuk (yang dilaknat)!”

Kemudian keledai itu pun masuk bersama Iblis. Disaat Nabi Nuh As. melihatnya, beliau pun berkata: “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?”

Lalu Iblis menjawab: “Kamu sendiri yang mengijinkanku masuk. Bukankah engkau berkata “Masuklah wahai terkutuk?” Dan tiada satupun yang terkutuk di dunia ini selain aku.”

12. Undang-undang Bagi Para Penumpang Perahu Nabi Nuh As.

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Nuh As. berada di dalam perahu itu beliau membuat undang-undang melarang semua penumpang untuk berhubungan intim karena dikhawatirkan akan berkembang biak dan tempatnya akan menjadi sempit. Maka semua penumpang mematuhi undang-undang tersebut terkecuali anjing. Anjing justru melakukan hubungan intim dengan betinanya. Kucing yang melihatnya pun melaporkan hal itu kepada Nabi Nuh As.

Akan tetapi anjing mengingkari perbuatannya itu dan bahkan mengulangi perbuatan terlarangnya itu sampai 2 atau 3 kali. Kemudian kucing pun melaporkannya kembali kepada Nabi Nuh As. Lantas Nabi Nuh As. memanggil kedua anjing itu dengan aib.

Mulai saat itulah terjadi permusuhan antara kucing dan anjing. Aib itu kemudian menimpa pada mereka setiap hendak melakukan hubungan intim. Kucing berujar: “Setiap aku berhubungan intim, aku berkeinginan agar tidak melihat anjing dan anjing pun tidak melihatku.”

Diceritakan bahwa ketika kotoran-kotoran hewan sudah banyak berceceran di dalam perahu, maka para penumpang mengadu kepada Nabi Nuh As. Lalu Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Nuh As.: “Peraslah ekor gajah.”

Ketika Nabi Nuh As. memeras ekor gajah tersebut keluarlah babi jantan dan betina. Kemudian babi-babi itu memakan semua kotoran-kotoran yang tercecer.

Setelah itu Allah Swt. menciptakan tikus jantan dan betina dari bersinnya babi. Tikus-tikus itu beranak-pinak dan terus menggerogoti kiri-kanannya perahu. Melihat kejadian itu, para penumpang pun mengadu kembali. Akhirnya para kucing liar (musang) memangsa dan memakan tikus-tikus itu dengan cepat sampai musna. Sejak itulah awal mula terjadinya permusuhan antara tikus dan kucing liar.

13. Ramalan Akan Datangnya Banjir Bandang Nabi Nuh As.

Diceritakan dari Ibnu Washif Syah bahwa tidak ada raja Mesir yang lebih kaya dari Raja Suraid. Sesuatu yang menimpanya, yaitu 300 tahun sebelum terjadi bencana tofan, dia bermimpi seolah-olah langit pindah ke bumi sehingga seperti lubang penggalian dan bintang-bintang berjatuhan. Sedangkan matahari dan rembulan dekat sekali dengan bumi. Ia juga melihat burung-burung putih menyambar manusia dan bertemu di antara dua gunung dan seolah-olah dunia menjadi hitam kelam dan gelap gulita. Semua manusia berkumpul di suatu gunung untuk menyelamatkan diri. Setelah bermimpi tersebut, dia terbangun dan merasa sangat ketakutan.

Esok harinya Raja Suraid mengundang para dukun yang berjumlah 100 dukun laki-laki. Para dukun itu tidak mampu memutuskan suatu masalah terkecuali dengan melihat perbintangan terlebih dahulu.

Akhirnya Raja Suraid pun menceritakan mimpinya itu dan para dukun berkata:“Mimpimu adalah golongan langit. Yang mana dengan mimpi ini semua alam dan penduduk bumi bisa hancur lebur.”

Lalu Raja berkata: “Ambillah kesimpulan dari bintang di atas sana.”

Tatkala para dukun melihat ke atas lalu mereka berkata: “Saya melihat bulan pada zodiak cancer dan itu telah mendekati ikan, maka kehancuran yang timbul adalah perkara tofan dan musibah ini adalah golongan air langit.”

Akhirnya Raja bertanya: “Apakah musibah ini juga menimpa negara ini?”

Mereka pun menjawab: “Iya , musibah itu akan menimpa negara kita dan negara akan hancur dalam masa yang panjang.”

Raja bertanya lagi: “Lihatlah , apakah negara kita akan kembali ramai seperti semula?”



“Negara ini akan kembali lebih bagus dari yang ada saat ini,” jawab para dukun.

Maka Raja Suraid memerintahkan untuk membangun kota dengan pondasi setinggi kotanya lalu berkata: “Kita menjadikan tempat ini sebagai kuburan kita. Lalu pindahkan banyak barang-barang, baik harta benda, perhiasan, alat-alat perang, patung-patung indah dan wadah-wadah yang bagus yang terdiri dari barang tambang. Lalu tulis rajah-rajah serta ilmu-ilmu perbintangan yang isinya menceritakan suatu kejadian masa depan sampai tuntas. Serta ceritakan raja-raja yang menguasai negara, Islam maupun kafir.”

Para dukun itu juga memberi kabar bahwa bencana tofan ini tidak lama menimpa bumi, hanya selama 40 hari. Lalu dibangunlah kota itu dengan pengaturan udaranya dan memindahkan apa-apa yang sudah direncakan. Raja Suraid berkata: “Jika kita selamat dari bencara tofan ini, maka kita akan kembali dan menemukan harta-harta yang kita miliki. Namun jika kita binasa maka bangunan ini adalah sebagai kuburan jasad kita yang dapat menjaga dari kehancuran.”

Semua orang, baik para menteri, hakim dan seluruh pejabat negara juga membuat sebuah bangunan untuk melindungi jasad mereka dari bencana tofan.

Al-Mas’udi dalam kitab Muruj adz-Dzahab mengatakan: “Sesungguhnya di setiap 1 bangunan ada 7 rumah, sebagaimana 7 bintang yang berjalan. Dan di dalam rumah tersebut ada patung-patung yang terbuat dari emas yang disepuh dengan perhiasan indah. Di telinga-telinga patung itu ada mutiara sebesar telur ayam. Dan di setiap bangunan juga terdapat peti yang terbuat dari marmer hijau yang digunakan untuk menyimpan mayat pemiliknya masing-masing lengkap disertai lampiran nama, biografi dan masa jabatannya. Di dalamnya juga ditulis “Dalam bangunan ini ada jalan tembus menuju Kota Fayyum dengan menempuh perjalanan 2 hari”.

14. Misteri Bangunan Kuno dalam Sumur

Syaikh Syihab al-Hijazi pernah menceritakan: “Kami, sebanyak 11 rombongan, keluar dari Masjid Jami’ al-Azhar dengan membawa keledai dan tali-tali panjang yang diletakkan di atasnya. Sesampai kami di sebuah kota besar, tempat tujuan, kami berdiri di atas sumur. Di situ ada seseorang pemberani dengan segera membuka bajunya.

Lalu kami ikat perutnya dengan tali yang kami bawa tadi. Ia pun masuk ke dalam sumur dengan tali yang terikat. Setelah turun ke bawah, ternyata tali sudah habis sedangkan dasar sumur belum terjangkau. Sehingga sorban-sorban yang kami pakai digunakan pula untuk menyambung tali-tali tadi.

Namun, di tengah-tengah sumur sambungan sorban dan tali itu tiba-tiba terputus sehingga terjatuhlah sang pemberani ke dasar sumur. Kami tak lagi mendapati kabar mengenai orang yang di dalam sumur itu. Sampai akhirnya kami beserta rombongan memutuskan untuk pulang dan meninggalkannya dengan penuh ketakutan dan penyesalan. Lalu kami memasuki kota dengan menyamar sehingga tidak ada yang mengenal tentang kami.

Di hari kemudian, seminggu setelah kehilangannya, kami pergi menuju masjid jami’. Kami tersentak kaget, karena tiba-tiba kami bertemu dengan orang yang terjebak dalam sumur itu. Orang itu masuk menemui kami dengan kondisi yang sangat lemah. Sesampainya di depan pintu masjid, ia mendekati kami dan langsung terjatuh pingsan.

Disaat ia tersadar dari pingsannya, kami memintanya untuk menceritakan kejadian yang telah menimpanya beberapa hari lalu dalam sumur. Laki-laki itu pun memulai ceritanya: “Setelah aku benar-benar terjatuh ke dasar sumur, aku melihat ada sesosok makhluk halus yang menaikiku. Ia memberiku barang lunak.

Kemudian kubakar barang itu dengan kayu bakar, pada lilin. Kemudian aku berjalan dengan lilin itu. Kutemukan di dalamnya sesuatu yang banyak, kotoran kelelawar dan lainnya. Aku juga melihat jasad-jasad yang memiliki postur tubuh sangat besar dan tinggi. Semua jasad itu berdiri tegak menggunakan tongkat. Kudekati salah satu jasad itu, kusentuh dan kugerak-gerakkan. Seketika hancurlah jasad itu. Lalu kuambil tongkat itu dari tangannya dan kubawa untuk berjalan.

Tiba-tiba aku tersentak kaget. Kulihat ada pintu dan juga sebuah teras. Aku terus berjalan menuju teras depan itu, rasa takut dan gemetar semakin menggelayutiku. Di teras itu kutemukan banyak tulang-belulang yang telah hancur serta tengkorak-tengkorak kepala yang besarnya sebesar semangka.

Lantas kuteruskan berjalan penuh ketakutan, tiba-tiba kulihat sosok makhluk berjalan di depanku. Tubuhku semakin gemetar tak karuan. Aku bergumam dalam hati: “Makhluk apakah itu?” Kutoleh perlahan, ternyata seekor “Lenggarangan.”

Akhirnya aku berjalan mengikuti langkah hewan itu hingga keluar dari lubang. Dan kulihat ada seberkas sinar dunia. Rasa menggebu-gebu ingin segera keluar dari gelapnya ruangan semakin tak terbendung lagi. Tapi apalah dayaku tak mampu melakukannya.

Kemudian kugali lubang itu dengan tongkat yang ada di tanganku. Menjadi longgarlah lubang itu sedikit demi sedikit dan akhirnya aku bisa keluar dari tempat yang mengerikan itu.

Tatkala kusadari bahwa aku telah berada di permukaan bumi, maka terjatuhlah aku sehingga membuatku tak sadarkan diri. Aku tak tahu , ada di belahan bumi manakah aku. Tiba-tiba aku melihat sosok manusia di hadapanku dan ia berkata: “Berdirilah wahai pemuda, karena rombonganmu telah pergi dan meninggalkanmu.”

Kutanyakan: “Di manakah aku?”

Dijawab: “Kamu sekarang berada di padang pasir kota Fayyum.”

Akhirnya aku berdiri dan ikut dengan rombongan laki-laki tadi. Ternyata ketika aku keluar dari lubang tadi, aku menemukan emas yang sangat bagus yang menempel di tongkat yang kubawa. Dan setelah aku siuman, ternyata tongkat itu telah raib dari genggamanku. Begitupun dengan lubang yang aku lihat tadi, tiba-tiba turut lenyap dan raib dari hadapanku. Aku menjadi bingung, tiba-tiba aku mendengar ada suara berseru: “Janganlah kau berharap tongkat itu bisa kembali lagi padamu.”

Lalu kuikutilah rombongan tersebut sehingga aku bisa masuk kembali ke kota ini.”

Abu Raihan al-Beiruti dalam kitabnya al-Atsar al-Baqiyah min Qurun al-Khaliyahmengatakan: “Sesungguhnya bangunan besar sebelah timur itu di dalamnya terdapat sebuah berhala yang terbuat dari marjan putih dan hitam, mempunyai dua mata yang terbuka dan bersinar mencorong. Berhala itu duduk di atas kursi yang terbuat dari emas dan tangannya membawa tongkat. Ketika ada salah satu orang yang mendekat maka berhala itu akan mengeluarkan suara yang sangat keras. Sehingga keluarlah orang yang mendekat tadi dan menjauh dari tempat itu. Tapi meskipun telah menjauh, suara berhala itu akan terus mengejar dan mengikuti orang itu sampai orang itu mati.

Sedangkan bangunan yang berada di sebelah barat itu juga terdapat sebuah berhala yang terbuat dari batu shawwan. Berhala itu juga duduk di atas kursi yang terbuat dari emas. Di kepalanya ada semacam ular yang melingkari lehernya. Ketika ada salah seorang yang mendekat maka ular itu akan melompat dan melilit pada leher orang tersebut sampai orangnya mati. Dan kemudian ular itu akan kembali pada tempatnya semula.

Kemudian pada bangunan kecil yang dihias dengan batu shawwan, di sana juga terdapat berhala yang terbuat dari bukhti. Siapapun yang melihat berhala itu maka berhala itu akan menyedot orang tersebut sehingga tidak bisa terlepas dan matilah orang itu di sana.”

15. Bangunan Kuno Raja Suraid

Imam al-Mas’udi kembali menceritakan: “Ketika Raja Suraid telah selesai membangun kota tersebut maka ia menguasakannya kepada segolongan arwah-arwah. Kemudian disembelihlah hewan-hewan kurban untuknya dengan tujuan menolak siapapun yang ingin merusak atau berbuat jahat dengan bangunan itu.

Setelah itu kota bagian timur dipasrahkan Raja Suraid kepada anak kecil tampan, putih kulitnya, telanjang dan bergigi besar dan tajam.

Sedangkan kota bagian barat dipasrahkan kepada seorang wanita yang telanjang yang memperlihatkan kemaluannya. Wanita itu tertawa terbahak-bahak di hadapan manusia sehingga manusia tergoda untuk mendekati wanita tersebut. Setelah didekati maka wanita tersebut menjatuhkan tubuhnya sehingga manusia tersebut kehilangan akalnya/gila.

Adapun kota kecil yang berwarna-warni dijaga seseorang yang tangannya selalu memegang dupa dan memakai pakaian pendeta serta selalu membakar dupa di kiri-kanan bangunan itu. Dan segerombolan orang dari tanah Jibrah menjelaskan: “Sesungguhnya penduduk Jibrah seringkali melihat penjaga tersebut yang selalu berjalan mengelilingi kota itu disaat terik matahari dan diwaktu terbenamnya matahari. Ketika mereka mendekatinya maka penjaga itu menghilang dan ketika mereka menjauh maka ia menampakkan dirinya lagi dari kejauhan.”

Muhammad bin Abdul Karim menjelaskan bahwa di salah satu bangunan timur dan barat itu terdapat kuburan Akhi Daimun dan Hurmus. Keduanya adalah perwira dari Bangsa Yunani. Kuburannya Akhi Daimun dibangun lebih dahulu daripada kuburannya Hurmus. Para penduduk Shab-iah dari berbagai pelosoknya ramai-ramai berziarah ke sana dengan membawa harta yang banyak untuk menunaikan nadzar mereka. Di belakang bangunan itu jika dilihat dari wilayah barat maka akan ditemukan 400 kota yang ramai tanpa desa.”

Kembali Imam Abul Hasan al-Mas’udi menjelaskan dalam kitabnya Muruj adz-Dzahab: “Setelah selesai membangun bangunan itu maka Raja Suraid menghiasinya dengan sutra berwarna-warni dari atas sampai bawah. Dan ia menjadikan tempat ini sebagai hari raya yang dihadiri oleh para pembesar dari kotanya. Di samping bangunan itu tertulis: “Ini adalah bangunan Suraid bin Syahluq.

Ia membangunnya selama 60 tahun. Siapapun yang ingin menghancurkan bangunan itu, maka dibutuhkan waktu 600 tahun. Padahal umumnya merusak itu lebih mudah daripada membangun. Dan cerita ini adalah yang benar.”

Dikatakan bahwa tatkala Khalifah al-Ma’mun membuka pintu pada bangunan yang besar itu maka ditemukan sebongkah batu marjan berbentuk papan yang di dalamnya terdapat tulisan dari goresan pena kuno “Ini adalah bangunan Suraid…”

16. Ketika Banjir Bandang Datang Menyapa

Kemudian Allah Swt. mewahyukan: “Hai Nuh, jika tempat pembakaran dari rumah anakmu yang bernama Sam itu memancarkan air maka naiklah ke atas perahu.”

Sam adalah anak tertuanya Nabi Nuh As. Saat itu Sam berusia 300 tahun dan menikahi wanita bernama Rahmah. Akhirnya Nabi Nuh As. datang ke rumah Sam: “Wahai Rahmah, sungguh awal terjadi datangnya banjir tofan itu dari tempat pembakaran ini, tempat yang kau gunakan untuk memasak roti. Jika kamu melihat pembakaran ini memancarkan air maka segeralah kamu lari dan memberitahuku.”

Dikatakan bahwa sesungguhnya tempat pembakaran itu adalah dari hajar aswad. Tepat di hari Jum’at tanggal 10 Rajab, Siti Rahmah sedang memasak roti di tempat itu. Disaat memasak roti yang terakhir tiba-tiba terpancarlah air. Sebagaimana firman Allah Swt. QS. Hud ayat 40:

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلاَّ مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ وَمَآ ءَامَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman. Dan tidaklah beriman bersama dengan Nuh kecuali sedikit.”

Disaat Siti Rahmah melihat kejadian itu, ia pun langsung menjerit: “Allahu Akbar! Telah datang adzab dari Allah dan dan sungguh benar apa yang disampaikan Nabi Allah Nuh.”

Kemudian Siti Rahmah bergegas lari dan memberitahukan Nabi Nuh As. tentang pancaran air di tempat pembakaran (dapur) itu. Lalu Nabi Nuh As. hanya berucap: “La Haula Wala Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Adzim.”

Sebelumnya Nabi Nuh As. telah mempersiapkan bekal yang dibutuhkan saat nanti dalam perahu, sampai pakan ternak dan burung pun telah dipersiapkan. Maka tatkala Siti Rahmah mengabarkan kepadanya atas kejadian pancaran air itu, bergegaslah Nabi Nuh As. mendatangi rumah Sam dan dilihatnya air sudah memenuhi ruangan depan rumah dan telah melewati pintu bagai sungai yang besar. Akhirnya dengan segera Nabi Nuh As. menuju perahu dan berseru: “Wahai kaumku, selamatkan diri kalian, selamatkan diri kalian! Ayo cepat naik ke atas perahu.”

Selama dakwahnya, Nabi Nuh As. hanya berhasil memiliki pengikut 40 laki-laki dan 40 perempuan (merekalah yang turut serta dalam perahu). Kemudian Nabi Nuh As. berkata kepada putranya yang lain yang bernama Kan’an:

يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

“Hai anakku, naiklah (ke perahu) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang bisa melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud ayat 42-43).

Sungguh Allah telah memberitahukan bahwa Kan’an bukan termasuk orang yang shaleh. Wahb bin Munabbih mengatakan bahwa Kan’an bin Nuh tenggelam sebelum ia sampai ke gunung.

Ibnu Abbas Ra. berkata: “Saat pembakaran itu memancarkan air maka pintu-pintu langit terbuka dengan guyuran hujan tanpa mendung, dunia menjadi gelap gulita, Malaikat Ghadha mengepakkan sayapnya di permukaan matahari, dan langit pun berkata: “Andaisaja Allah tidak memberikan batas niscaya akan tembus hingga lapis bumi ke tujuh.” Saat kejadian itu jika ada seorang lelaki yang berjalan maka bekas injakannya akan memancarkan air. Wanita yang sedang berdiri di rumahnya pun akan melihat pancaran air bergelombang di bawah kakinya. Dan meratalah air memancar di seluruh permukaan bumi.”

Disaat air memancar di Kota Amsus, tempat kerajaan Suraid, terdengarlah jeritan alam. Maka sang raja beserta para pembesarnya naik ke atas gunung yang tinggi untuk melihat keadaan manusia. Ia pun bertanya-tanya dari manakah sumber air ini datang namun tak ditemukan jawabannya, terkecuali air memancar deras dari bekas telapak kudanya. Lalu ia kembali ke pemukimannya, lagi-lagi yang ia jumpai hanya air berombak yang besar seperti gunung. Dan tiada lagi sesuatu yang tersisa di atas permukaan bumi.

Wahb bin Munabbih mengatakan bahwa tempat awal terjadinya bencana banjir tofan adalah dari Kota Kufah, sebab di situlah keberadaan tempat pembakaran (dapurnya Siti Rahmah) yang memancarkan air.

Adapun Nabi Nuh As. beserta kaumnya telah menaiki perahu. Sedangkan tatkala ‘Auj bin ‘Anuq (manusia raksasa yang membawa kayu-kayu jati perahu Nabi Nuh As.) melihat bencana ini maka segeralah ia menuju perahu dan meletakkan tangannya di perahu. Lalu Nabi Nuh As. berkata kepadanya: “Apa yang kau inginkan wahai musuh Allah?”

'Auj menjawab: “Saya takkan menyakitimu wahai Nabi Allah. Izinkanlah kuberjalan bersama perahu ini ke mana pun berlayar. Maka tanganku turut berpegangan di perahu ini dan saya merasa nyaman dari kepanikan. Aku pun mendengar tasbihnya para malaikat.”

Kemudian Allah Swt. mewahyukan pada Nabi Nuh As.: “Janganlah engkau takut pada ‘Auj. Biarlah ia ikut berjalan bersama perahu ke mana akan berlayar.”

Kemudian Nabi Nuh As. mengunci pintu-pintu perahu dan berkata:

وَقَالَ ارْكَبُواْ فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut Nama Allah diwaktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud ayat 41).

Maka perahu itu pun berlayar bersama mereka melewati ombak-ombak yang besar bagai gunung. Allah Swt. berfirman:

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ

“Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera.” (QS. al-Haqqah ayat 11).

17. Banjir Bandang Nabi Nuh As. Meratai ke Seluruh Penjuru Bumi

Diceritakan bahwa sesungguhnya Allah Swt. tatkala mengutus tofan maka Allah Swt. mengangkat Baitul Makmur, yang dibuat dari mutiara merah, yang telah diturunkanNya ke bumi pada zaman Nabi Adam As. Ketika air telah naik maka Allah Swt. mengangkatnya ke langit. Baitul Makmur disebut juga dengan “al-‘Atiq” karena sangat antic, bisa selamat dari adzab tofan.

Tatkala perahu berlayar sampai ke Kakbah, ia pun memutarinya sampai 7 kali. Sehingga sampailah perahu itu di Baitul Maqdis untuk mengunjunginya. Tidaklah perahu itu berjalan ke suatu tempat terkecuali ia akan menjelaskan kepada Nabi Nuh As.: “Wahai Nuh, ini adalah tempat ini… dan ini adalah tempat ini…”

Maka berkelilinglah perahu itu bersama Nabi Nuh As. dari ujung timur sampai ujung barat. Di sekeliling perahu itu dipenuhi dengan para malaikat berjumlah seribu guna ikut menjaganya dari adzab yang akan diturunkan.

Perahu itu berlayar di atas permukaan air bagaikan berjalannya purnama di cakrawala. Setiap detiknya air selalu naik di atas puncak gunung setinggi 40 dzira’. Air meratai bumi dan gunung-gunung. Tiada satu pun makhluk bernyawa di bumi ini yang tersisa kecuali para penghuni perahu itu dan ‘Auj bin ‘Anuq si manusia raksasa.

Dan tidak ada pula kota dan desa terkecuali semuanya hancur. Tidak ada pula bekas-bekas bangunan yang tersisa kecuali bangunannya Raja Suraid dan al-Barabi, karena keduanya merupakan bangunan yang sangat kokoh.

18. Gambaran Dahsyatnya Kepayahan Manusia Saat Menghadapi Banjir Bandang

Terdapat cerita langka dari ats-Tsa’labi bahwa tatkala terjadinya banjir tofan ada seorang wanita yang sedang menggendong anak kecil. Dan semasa itu tidak ada anak kecil kecuali anak kecil itu. Ketika air telah naik, ia menggendong anak itu di pundaknya. Kemudian ia berenang, berlari dan naik ke atas gunung demi menyelamatkan anaknya dari banjir tofan.



Ketika air semakin naik, ia menaruh anaknya di pundaknya. Dan ketika air sudah sampai di mulut, maka ia pun mengangkat tinggi-tinggi anaknya di atas kepalanya. Dan ketika air telah menenggelamkannya, maka ditaruhlah anaknya itu di bawah kakinya. Ia berpijak pada anaknya itu agar ia bisa bernafas dan selamat dari banjir. Setelah itu tenggelamlah keduanya.

Kemudian Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Nuh As.: “Anda Kukasihi salah satu kaummu (yang durhaka) niscaya akan Kuselamatkan wanita itu beserta anaknya.”

Dan kejadian ini hanyalah sebagai contoh (gambaran betapa dahsyatnya keadaan saat itu). Dikatakan bahwa kebanyakan manusia saat itu menaruh anaknya di bawah telapak kaki mereka agar bisa dijadikan sebagai pijakan.

19. Lamanya Banjir Bandang Pada Masa Nabi Nuh As.

Imam al-Kisai berkata: “Mengenai berapa lama masa banjir (di zaman Nabi Nuh As.) di bumi ini para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan bahwa banjir itu menggenang di atas bumi selama 6 bulan. Sebagian lagi berpendapat 150 hari (5 bulan).”

20. Pendaratan Perahu Nabi Nuh As.

Setelah itu Allah Swt. memerintahkan kepada bumi dan langit, sebagaimana firmanNya dalam QS. Hud ayat 44:

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءكِ وَيَا سَمَاء أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاء وَقُضِيَ الأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْداً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi. Dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang dzalim.”

Bukit Judi adalah bukit yang letaknya berdekatan dengan tanah Mushal. Perahu itu berlabuh di bukit itu. Imam ats-Tsa’labi berkata: “Perahu itu berlabuh pada hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram.

Kemudian berpuasalah Nabi Nuh As. di hari itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt. Dan Nabi Nuh As. juga memerintahkan semua penumpang untuk ikut berpuasa sebagai tanda syukur atas kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan Allah Swt. kepada mereka. Diceritakan bahwa hewan-hewan, burung-burung, binatang ternak, hewan liar, semuanya juga turut melakukan puasa

Kemudian Nabi Nuh As. mengeluarkan semua bekal yang dibawanya. Lalu beliau mengelompokkannya menjadi 7 golongan; pala, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, gandum, jagung dan padi. Semuanya dicampur dan dimasak jadi satu. Maka jadilah campuran Palawija (Bubur Sura), menjadi kesukaaan Nabi Nuh As.

21. Celak “Itsmid” Saat Nabi Nuh As. Keluar dari Perahu

Kemudian Nabi Nuh As. membukakan pintu-pintu perahu. Dilihatnya sinar matahari dan awan, serta tampaklah busur-busur yang berwarna-warni (pelangi). Pelangi itu tidak pernah nampak sebelumnya kecuali pada hari itu, yaitu tanggal 10 Muharram (Hari Asyura). Dan pelangi itu sebagai tanda bahwa air semakin surut.

Ketika Nabi Nuh As. melihat matahari dan pelangi, dengan segera ia bertakbir: “Allahu Akbar!”

Kemudian semua penumpang yang ada di dalam perahu itu ikut mengumandangkan takbir. Ketika itu para penumpang tidak bisa melihat matahari dengan mata telanjang, diadukanlah hal itu kepada Nabi Nuh tentang apa yang telah menimpa mereka. Mereka berkata: “Mata-mata kami tidak bisa menghadapi sinar matahari.”

Akhirnya Nabi Nuh As. memerintahkan mereka untuk bercelak dengan batu “ itsmid” agar mereka mampu dan kuat melihat sinar matahari. Rasulullah Saw. pernah bersabda:“Barangsiapa yang bercelak pada hari Asyura maka orang itu tidak akan buta pada tahun itu.”

Setelah Nabi Nuh As. membuka semua pintu perahu maka terpancarlah sinar matahari ke dalam perahu. Sehingga burung-burung pun bisa mengepakkan sayapnya. Dan semua hewan serta pepohonan bisa menggerak-gerakkan tubuhnya. Sedangkan ‘Auj bin ‘Anuq tatakala mengetahui bahwa perahu itu telah berlabuh, dengan segera ia pergi meninggalkan perahu itu dan berenang ke dalam air sesuka hatinya.

22. Kehidupan Baru Usai Banjir Bandang

Imam al-Kisai berkata: “Setelah banjir melanda selama 150 hari dan menjadi surut, gunung yang terlihat pertamakali adalah Gunung Abi Qubais di Kakbah. Sehingga terlihatlah tempat Kakbah yang memiliki tanah berwarna merah. Dan tak ada satupun desa yang terselamatkan terkecuai Desa Naharwandi. Desa ini ditemukan di bawah air, keadaannya masih utuh seperti semula tidak ada yang hancur sama sekali. Begitu juga Desa al-Barabi di Sha-id. Konon desa ini yang membangun adalah Hurmus I. Di dalam bangunan itu Hurmus telah menyimpan berbagai ilmu, seperti ilmu perbintangan dan ilmu-ilmu kesaktian. Bangunan ini ditemukan dalam keadaan utuh .”

Kemudian Nabi Nuh As. ingin memastikan apakah air sudah surut atau belum di permukaan bumi, maka diutuslah seekor burung elang. Elang pun pergi mencari kabar apa yang dititahkan Nabi Nuh kepadanya.

Di tengah perjalanannya itu elang melihat bangkai. Setelah itu ia malah memakan bangkai tersebut sehingga terlupalah akan tugas yang sedang diembannya. Nabi Nuh As. menunggunya hingga 7 hari. Lalu Nabi Nuh As. pun memanggil elang itu. Namun didapatinya elang berjalan dengan pongah-ceronboh dan tak bisa diam menetap pada satu tempat. Akhirnya Nabi Nuh As. berkata kepada burung-burung yang lain: “Siapakah diantara kalian yang bisa memberikan kabar kepadaku tentang keadaan air di muka bumi dan tidak melakukan seperti apa yang dilakukan elang?”

Burung merpati akhirnya yang angkat bicara: “Wahai Nabi Allah, saya lah yang akan membawakan kabar itu untukmu.”

Setelah itu terbanglah merpati itu dan ia kembali dengan membawa daun hijau di paruhnya. Ketika melihat daun itu Nabi Nuh As. berkata: “Sesungguhnya daun ini adalah sebagian dari daun-daunnya pohon zaitun.”

Dengan melihat daun itu tahulah Nabi Nuh As. bahwa banjir belum surut sempurna. Setelah itu Nabi Nuh As, menunggu beberapa hari lagi. Kemudian beliau menyuruh burung merpati itu lagi. Dengan segera ia langsung terbang dan setelah kembali kakinya penuh dengan lumpur yang berwarna merah. Karena tanah yang pertama terlihat di bumi adalah Kakbah, yang tanahnya memang merah, burung merpati itu tadi hinggap di sana dan mengoles-oleskan tanah merah itu pada kedua kakinya.

Maka Nabi Nuh As. mendoakan burung merpati itu: “Ya Allah, jadikanlah penuh keberkahan burung merpati-merpati ini untuk para burung lainnya dan perbanyaklah keturunan-keturunannya serta disukai oleh banyak orang.”

Perahu itu berada di atas Gunung Judi selama 40 hari sampai bumi menjadi kering dan tumbuhlah rumput-rumput di sekitar perahu itu. Lalu Allah mewahyukan pada Nabi Nuh:

يانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِّنَّا وَبَركَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ

“Wahai Nuh , turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu.” (QS. Hud ayat 48).

Kemudian Allah Swt. memerintahkan Nabi Nuh As. untuk melepas dan membebaskan semua yang ada di dalam perahu itu seperti sediakala. Lalu Allah Swt. memperlihatkan siang, malam, menerbitkan matahari, bulan dan bintang seperti semula. Dan kemudian diturunkanlah hujan rahmat, menggantikan air banjir tofan yang kotor menjadi air yang segar. Bergembiralah hati Nabi Nuh As. dengan kebahagiaan yang mengharapkan ridha Allah Swt.

23. Perubahan Keadaan Bumi Pasca Banjir Bandang

Sewaktu Nabi Nuh As. keluar dari perahu, dilihatnya bumi ini menjadi serba putih. Nabi Nuh merasa heran, maka datanglah Malaikat Jibril As. dan bertanya: “Wahai Nuh, apakah engkau tahu apa sebenarnya putih-putih yang kamu lihat ini?”

Nabi Nuh As. malah balik bertanya: “Apakah ini?”
Malaikat Jibril As. menjawab: “Sesungguhnya warna putih-putih itu adalah tulang-belulang dari kaummu.”
Setelah mengetahui hal itu lalu Nabi Nuh As. mendengar suara-suara yang bergemerincingan. Malaikat Jibril As. pun bertanya lagi: “Apakah kamu tahu suara apakah itu?”

“Suara apakah itu?” Nabi Nuh balik bertanya.

Dijawab: “ Sesungguhnya ini adalah suara rantai-rantai yang digunakan untuk menyeret kaummu ke neraka.”

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Nuh ayat 25:

مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا

“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka. Maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.”

Dan diceritakan pula bahwa ketika Nabi Nuh As. keluar dari perahu, ia bersama 80 manusia. Setelah itu Nabi Nuh As. membangun sebuah desa dan meramaikannya. Desa itu diberi nama “Tsamanin”. Dan desa ini adalah desa pertama kali yang dibangun di permukaan bumi setelah terjadinya banjir bandang (tofan).

Setelah 80 orang itu menempati desa tersebut, maka Allah Swt. menurunkan kerusakan dan binasalah 80 orang itu secara bersamaan. Tidaklah ada yang tersisa kecuali Nabi Nuh As. dan 3 anak beliau; Sam, Ham dan Yafus, serta 3 orang menantu beliau. Jumlahnya menjadi 7 orang. Sebagaimana Allah Swt. Berfirman dalam QS. ash-Shaffat ayat 77:

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak-cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.”

Sehingga semua yang ada di alam ini berawal dari Nabi Nuh As. Dan Nabi Nuh adalah Bapaknya manusia kedua setelah Nabi Adam As.

Wahb bin Munabbih mengatakan: “Awal terjadinya banjir tofan adalah di bulan Rajab sampai akhir bulan Dzul Hijjah (6 bulan).”

Imam Abu Ma’syar berkata: “Jarak antara banjir tofannya Nabi Nuh As. dengan taubatnya Nabi Adam As. adalah 2.240 tahun. Sedangkan jarak antara banjir tofannya Nabi Nuh As. dengan hijrahnya Nabi Saw. adalah 3.774 tahun.”

24. Nabi Nuh As. Mengawali Hidup Baru dengan Menanam Pepohonan

Imam ats-Tsa’labi menjelaskan bahwa ketika Nabi Nuh As. telah menetap, maka Allah Swt. mewahyukan kepadanya agar menanam pepohonan. Nabi Nuh As. pun menjalankan perintah tersebut. Dan pohon pertama kali yang ditanam adalah pohon jati. Kemudian Nabi Nuh As. hendak menanam pohon anggur, namun beliau tidak menemukan pohon itu. Maka Nabi Nuh bertanya kepada putranya, Sam: “Wahai putraku, apakah kamu mengambil pohon anggur?”

Sam menjawab: “Saya tidak tahu, Ayah.”

Akhirnya turunlah Malaikat Jibril As. memberitahukan: “Wahai Nuh, sesungguhnya pohon anggur itu telah dicuri iblis.”

Lalu Nabi Nuh As. berkata kepada iblis: “Kembalikanlah kepadaku pohon anggur yang telah kau curi itu.”

Iblis menjawab: “Aku tidak akan mengembalikan pohon anggur itu sehingga kau mau membaginya denganku.”

Nabi Nuh As. berkata: “Baiklah, kamu nanti akan mendapat 1/3 bagian.”

Mendengar keputusan Nabi Nuh tersebut, iblis pun menolak. Kemudian Nabi Nuh As. menaikkan tawaran menjadi 2/3, maka setujulah iblis.

Syaikh Kamaluddin ad-Damiri dalam kitabnya Hayat al-Hayawan mengatakan: “Ketika iblis pertama kali menanam pohon anggur, ia menyembelih burung merak dan menyiramkan darahnya pada pohon anggur itu sampai terseraplah darah itu ke dalamnya. Setelah daunnya tumbuh maka iblis menyembelih monyet dan menyiramkan darahnya ke pohon anggur itu. Dan ketika berbuah muda maka iblis menyembelih harimau dan menyiramkan darahnya ke pohon anggur itu. Ketika buahnya sudah besar-besar maka iblis menyembelih babi dan menyiramkan darahnya ke pohon anggur itu. Maka dari itu siapapun yang meminum khamr maka tidak akan terlepas dari 4 sifat hewan itu.

Keadaan orang yang meminum anggur adalah, pertama minum ia akan bergerak-gerak tubuhnya seperti burung merak. Setelah minum maka ia akan berjalan sempoyongan, menari-nari sendiri seperti monyet. Setelah parah maka ia akan berteriak-teriak seperti harimau. Dan ketika benar-benar sudah parah maka ia akan merasa ngantuk dan ingin tidur layaknya seekor babi. Dan 4 sifat inilah yang tidak pernah lepas dari orang yang minum minuman keras.

Imam al-Kisai mengatakan bahwa yang pertama kali memeras anggur menjadi arak adalah iblis. Dan yang pertama kali membuat gendang, seruling dan alat-alat musik lainnya juga iblis.


25. Penutup

Akhirnya sampai juga di penghujung tulisan, yang sebenarnya mencapai permulaannya saja belum. Ibarat lautan, tulisan ini hanyalah setetes darinya. Baca dan koreksilah.



Silakan halal diapakan saja oleh kalian, selama hal itu dianggap “manfaat”. Pada akhirnya “Gusti Allah Mboten Sare.” Wallahu A’lam.

---------------------------

Disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur”
Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy
Alih Bahasa: Sya’roni As-Samfuriy


Friday, July 4, 2014

sejarah puasa bulan ramadlan

sejarah puasa bulan ramadlan

di bulan ramadlan 1435 H ini penulis mencoba menyajikan kajian ramadlan, tentang sejarah singkat di syari'atkanya puasa ramadlan dan bagaimana puasa umat-umat terdahulu sebelum islam datang, tulisan ini penulis dapat dari www.fikihkontemporer.com semoga bermanfaat bagi pembaca.

A. Puasa Pra Islam

1. Puasa Umat Terdahulu

 Dalam kitab suci al-qur’an telah dijelaskan bahwa kewajiban untuk mengerjakan puasajuga telah disyari’atkan bagi umat-umat para nabi terdahulu sebelum diwajibkan bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh : 183)

Syekh Thonthowi dalam kitab Tafsir Al-Wasith menjelaskan bahwa penyerupaan pada ayat tersebut adalah penyerupaan dalam hal kewajiban mengerjakan puasa, maksudnya kewajiban mengerjakan puasa juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, hanya saja puasa mereka dikerjakan dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah, sebab tidak ditemukan dalil yang nash (penjelasan) dari Rasulullah tentang tata cara puasa mereka.

Sebagian ulama’ berpendapat bahwa penyerupaan pada ayat diatas juga dalam hal tata cara berpuasanya, artinya puasa romadhon juga diwajibkan bagi umat-umat terdahulu, namun pendapat ini tak memiliki dasar, karena itulah Qodhi Abu Bakar bin ‘Arobi secara tegas menyatakan; “Hal yang pasti adalah bahwa penyerupaan tersebut dalam hal kewajibannya saja, dan adanya beberapa pendapat yang berbeda (mengenai cara puasanya)itu hanyalah berdasarkan kemungkinan semata (mujarrodu ihtimal).

Salah satu bukti yang menguatkan pendapat bahwa penyerupaan ini hanyalah dalam hal kewajibannya saja adalah bahwa kata “كَمَا” (seperti halnya) pada ayat tersebut posisinya dibaca nashob sebagai masdar, ini berarti bahwa jika dinampakkan dalam bentuk kata susunan katanya akan menjadi
 “فرض عليكم الصيام فرضا كالذي فرض على الذين من قبلكم” (Diwajibkan puasa bagi kalian sebagaimana diwajibkan puasa bagiu orang-orang sebelum kalian).

Lalu, apa tujuan dari penyerupaan seperti itu? para ulama’ menjelaskan bahwa diantara manfaat dari penyerupaan tersebut adalah agar ibadah puasa lebih ringan dikerjakan oleh kaum muslimin, sebab sesuatu yang berat akan terasa ringan dikerjakan oleh manusi saat mereka tahu bahwa orang-orang sebelum mereka juga telah lebih mengerjakannya sebelum mereka.

2. Puasa Pada zaman jahiliyah

Puasa juga telah dikenal dan dikerjakan oleh masyarakat mekah pada saat belum diwajibkannya puasa romadhon bagi kaum muslimin, pada masa jahiliyah penduduk Mekah telah mengerjakan puasa asyuro’ (10 Muharrom), sebagaimana dikisahkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengisahkan;

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ، فِي الجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ لاَ يَصُومُهُ»

“Hari Asyuro’ merupakan hari dimana orang quraisy mengerjakan puasa pada masa jahiliyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengerjakan puasa tersebut, ketika beliau berhijrah ke Madinah beliau juga mengejakan puasa tersebut dan memerintahkan untuk mengerjakan puasa asyuro’. Ketika turun perintah untuk mengerjakan puasa romadhon, puasa tersebut boleh dikerjakan dan juga boleh tidak dikerjakan.” (Shahih Bukhari, no. 3831)

B. Puasa Pada Masa Islam

1. Puasa ayyamul bidh dan Puasa Asyuro’ .

Sebelum turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad yang memerintahkan kaum muslimin untuk mengerjakan puasa romadhon, puasa yang pertama kali disyari’atkan dalam islam adalah puasa ayyamul bidh (13, 14 & 15 tiap bulan) dan puasa Asyuro’. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Jabir bin Samuroh radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan;

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، وَيَحُثُّنَا عَلَيْهِ، وَيَتَعَاهَدُنَا عِنْدَهُ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ، لَمْ يَأْمُرْنَا، وَلَمْ يَنْهَنَا وَلَمْ يَتَعَاهَدْنَا عِنْدَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk mengerjakan puasa hari asyuro’ dan mendorong kami untuk mengerjakannya, dan mengamati kami (apakah kami mengerjakan puasa asyuro’ atau tidak). Ketika telah diwajibkan puasa bulan romadhon, beliau tak lagi memerintahkan kami (mengerjakan puasa ayuro’), namun beliau juga tidak melarang kami mengerjakannya, begitu juga beliau tak lagi mengamati kami.” (Shahih Muslim, 1128)

Sedangkan tambahan puasa ayyamul bidh dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau mengisahkan;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَيَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ}

“Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan puasa 3 hari pada setiap bulan, selain itu beliau juga mengerjakan puasa asyuro’. Kemudian Allah menurunkan wahyu:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Diwajibkan bagi kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh : 183) (Sunan Abu Dawud, no.507)

2. Keringan Bagi Orang Yang Mampu Berpuasa

Wahyu yang yang memerintahkan untuk mengerjakan puasa bulan romadhon diturunkan kepada nabi Muhammadpada bulan Sya’ban tahun 2 hijriyah. Ketika turun wahyu yang memerintahkan untuk puasa pada bulan romadhon pada mulanya masih ada keringanan bagi orang-orang yang mampu berpuasa, mereka bisa memilih antara mengerjakan puasa atau membayar fidyah yang diberikan kepada orang-orang miskin yang berpuasa jika tidak berpuasa.

Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqoroh : 184)

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan;

نَزَلَ رَمَضَانُ فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَكَانَ مَنْ أَطْعَمَ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا تَرَكَ الصَّوْمَ مِمَّنْ يُطِيقُهُ، وَرُخِّصَ لَهُمْ فِي ذَلِكَ

“Saat turun kewajiban puasa romadhon, hal tersebut dirasa berat bagi mereka, karena itu (pada mulanya) orang yang mampu mengerjakkannya, namun tidak berpuasa memberi makan setiap hari kepada orang miskin ketika ia meninggalkan puasa, hal tersebut merupakan keringanan bagi mereka. (Shahih Bukhari, 3/34)

3. Semua orang yang mampu berpuasa pada bulan romadhon, diwajibkan mengerjakan puasa sebulan penuh.

Setelah pada mulanya orang-orang yang mampu berpuasa boleh memilih antara mengerjakan puasa atau membayar fidyah ketika mereka tidak mengerjakan puasa, selanjutnya turun wahyu yang memerintahkan untuk mengerjakan puasa bagi semua orang yang mampu mengerjakannya, dan tak ada lagi pilihan lain.

Imam Muslim meriwayatkan satu hadits dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan;

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ}  كَانَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يُفْطِرَ وَيَفْتَدِيَ، حَتَّى نَزَلَتِ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا فَنَسَخَتْهَا

“Ketika turun ayat ini:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin) ‘ (Qs.?Al Baqarah: 184).)

orang yang hendak berbuka dan membayar fidyah maka boleh ia melakukannya, hingga turunlah ayat yang setelahnya dan menghapus hukum ayat tersebut.” (Shahih Muslim, no.1145)

Ayat yang menash (menghapus hukum) kebolehan tidak berpuasa bagi orang yang mampu dan menggantinya dengan membayar fidyah adalah firman Allah;

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Maka barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqoroh : 185)

Setelah turun ayat tersebut semua orang yang mampu berpuasa, wajib mengerjakan puasa romadhon sebulan penuh.

Wallahu a’lam.


Referensi:
1. Al-Qur’anul Karim
2. Tafsir Al-Wasith, Syekh Thonthowi
3. Shahih Bukhari
4. Shahih Muslim, tahqiq Fu’ad Abdul Baqi.
5. Sunan Abu Dawud

Friday, June 27, 2014

no image

Memilih Menantu ala Nuh Bin Maryam

Diceritakan, dahulu di kota marwu (salah satu kota di negara Persia), terdapat seorang laki-laki yang bernama Nuh bin Maryam, ia adalah seorang pemimpin sekaligus Qadli kota tersebut. Ia adalah seorang laki-laki yang banyak mendapatkan nikmat juga harta benda yang melimpah.

Ia juga seorang bapak yang memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik, baik, menarik, sungguh sempurna sekali kecantikannya. Telah banyak para pembesar, petinggi, atau pemuda-pemuda kaya yang datang untuk melamarnya.

Tetapi tak ada seorang pun dari mereka yang datang, dapat membuat tertarik hati syaikh Nuh bin Maryam untuk melepaskan anak gadisnya.

Karena melihat putrinya sudah waktunya menikah, tetapi belum menemukan sosok yang cocok sebagai pendamping putrinya, syaikh Nuh bin Maryam merasa gundah dan susah menghadapi masalah ini.

“Jika aku memilih salah satu dari mereka, maka sebagian yang lain tentu akan merasa kecewa”, kata syaikh Nuh bin Maryam.

Syaikh Nuh bin Maryam memiliki seorang budak laki-laki yang bernama Mubarok, ia adalah seorang budak yang berasal dari India dan merupakan seorang budak laki-laki yang sangat bertaqwa.

Beliau memiliki kebun yang sangat luas, kebun tersebut ia tanami dengan berbagai macam pohon, buah-buahan, juga tumbuh-tumbuhan.

Syaikh Nuh bin Maryam berkata kepada budak laki-lakinya; “Aku ingin engkau merawat dan menjaga kebunku”.
Mendapat perintah tersebut, ia lalu mulai menjaga dan menetap di kebun syaikh Nuh bin Maryam selama satu bulan penuh.

Beberapa hari kemudian setelah Mubarok mulai menjaga kebun tersebut, tuannya mengunjungi kebun untuk melihatnya. Ia berkata kepada Mubarok; “Wahai Mubarok, petikkan aku segenggam anggur”.

Mendapat perintah demikian, Mubarok segera mengambilkan segenggam kurma, tetapi anggur yang dipetikkan oleh Mubarok, ternyata terasa masam.

Mendapat anggur yang masam, syaikh Nuh bin Maryam memerintahkan Mubarok untuk memetikkan anggur yang lain; “Petikkan aku anggur yang lain, yang tadi masam rasanya…!”

Mendapatkan perintah demikian, ia mulai memetikkan anggur yang lain, tetapi lagi-lagi anggur yang ia petik masam juga rasanya. Mengetahui hal tersebut, syaikh Nuh bin Maryam heran lalu bertanya pada Mubarok;

“Wahai Mubarok, dari anggur sebanyak ini, kenapa engkau tidak bisa memetikkan untukku anggur yang manis, engkau malah memetikkan anggur yang masam??”.

“Wahai tuanku, sungguh aku tak tau, mana anggur yang manis dan mana anggur yang masam”, kata Mubarok.

“Subhanallah, engkau hidup satu bulan penuh dalam kebun anggur tetapi engkau belum bisa membedakan mana anggur yang manis dan mana yang masam??”.

“benar wahai tuanku, aku tidak bisa membedakannya”, kata Mubarok.

“Kenapa engkau tidak mencicipi anggur tersebut, agar tau rasanya?”, kata syaikh Nuh bin Maryam.

“Engkau hanya memerintahkan aku untuk menjaganya, dan tidak memerintahkan aku untuk mencicipinya, bagaimana bisa aku mengkhianatimu wahai tuanku?!”. Kata Mubarok.

Mendengar jawaban demikain, al-Qadli syaikh Nuh bin Maryam merasa takjub akan kejujuran pemuda ini, lalu berkata; “Semoga Allah menjagamu atas amanah yang engkau emban wahai pemuda”.

Syaikh Nuh bin Maryam sekarang tau, bahwa pemuda yang sedang berada di hadapannya adalah pemuda yang memiliki akal yang cerdas. Syaikh Nuh bin Maryam berkata; “Wahai anak muda, sungguh hatiku saat ini sangat senang kepadamu, dan aku ingin, engkau melaksanakan perintahku berikutnya”.

“Aku selalu mentaati Allah Ta’ala dan perintahmu wahai syaikh”, kata Mubarok.

Syaikh Nuh bin Maryam berkata; “Sesungguhnya aku memiliki seorang putri yang sangat cantik dan sudah pernah di khitbah oleh banyak para pembesar dan orang-orang penting, tetapi aku masih belum tau, siapa di antara mereka yang harus aku jadikan menantu, apa saranmu atas masalahku ini??”.

Mubarok berkata; “Orang-orang kafir zaman jahiliyyah, mereka lebih mengutamakan keturunan, nasab, kemasyhuran keluarga, juga kedudukan”.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih mengutamakan keelokan dan kecantikan. Pada masa Nabi shalallahu’alaihi wasallam, para sahabat lebih mengutamakan kebaikan agama juga ketaqwaan”.

“Sedangkan di zaman kita sekarang, dalam masalah mencari mantu, para orang tua lebih mengutamakan banyaknya harta benda. Oleh karena itu wahai syaikh, anda bebas menentukan pilihan anda dari empat hal ini”.

Mendapat jawaban demikian, syaikh Nuh bin Maryam berkata; “wahai pemuda, aku lebih memilih calon yang kokoh agamanya, bertaqwa dan amanah. Oleh karena itu, aku ingin menjadikan engkau sebagai menantuku. Karena aku sungguh telah menemukan kebaikan, agama yang kokoh, juga amanah pada dirimu. Juga engkau adalah pemuda yang memiliki iffah (kemulyaan diri) juga penjagaan diri yang bagus”.

Mendegar ucapan tuannya, Mubarok berkata; “Wahai tuan, saya adalah seorang budak yang berasal dari India dan berkulit hitam yang telah engkau beli dengan hartamu, kenapa engkau malah ingin menikahkan aku dengan anakmu? Mengapa engkau malah meilihku dan ridlo kepadaku?”.

“Berdirilah bersamaku menuju rumahku untuk merembug masalah ini, kata syaikh Nuh bin Maryam.

Setelah syaikh Nuh bin Maryam bersama Mubarok sampai di rumah, beliau berkata kepada istrinya; “Ketahuilah, pemuda India ini adalah seorang pemuda yang baik agamanya juga bertaqwa, aku suka akan kesalehannya dan aku ingin menikahkannya dengan anak kita, apa pendapatmu mengenai hal ini?”.

“Semua keputusan berada di tanganmu wahai suamiku, tetapi berilah aku waktu sebentar untuk memberitahu anak kita, aku ingin mendengar jawabannya”, kata sang istri.

Sesampainya istri syaikh Nuh bin Maryam kepada anaknya, ia berkata kepadanya tentang keinginan ayahnya.

Mendengar perkataan ibunya, gadis tersebut menjawab; “Jika hal tersebut sudah menjadi pilihan ayah dan ibu, maka aku akan melaksanakannya, aku tidak akan pernah menentang keputusan ayah dan ibu, aku akan selalu berbuat baik kepada ayah dan ibu”.

Mendapat persetujuan dari anak gadisnya yang sangat salihah ini, syaikh Nuh bin Maryam segera menikahkan Mubarok dengan anak gadisnya tersebut.

Setelah pernikahan, syaikh Nuh bin Maryam memberikan harta yang sangat banyak sekali kepada kedua mempelai tersebut, dan tidak begitu lama kemudian, lahirlah dari kedua pasangan yang saleh dan solihah tersebut seorang anak laki-laki tampan yang kemudian dinamai Abdullah.

Dialah anak yang kelak sangat terkenal di kalangan Ulama Islam dengan nama Abdullah bin Mubarok, seorang ulama besar yang memiliki banyak ilmu, zuhud, dan banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shalallahu’alaihi wasallam. Sampai saat ini, nama besar Abdullah bin Mubarok masih dikenang dalam dunia Islam.


اللهم ان كنت صالحا ارزقني زوجة صالحة
وان لم اكن صالحا ارزقني زوجة تصلحني


kisah di atas memberikan gambaran pada kita, bagaimana seharusnya kita bersikap bila pada posisi sebagai orag tua yang mempunyai anak gadis.

sungguh ironi, sangat langka hal ini kita temuai, kebanyakan dari kita bila mencari menantu yang kita tanyakan pertama kali apa pekerjaanya dan berapa gajinya.

*Disadur dari kitab at-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk karya al-Imam al-Ghazali oleh al-Faqir As'ad.

LINK ASAL :
https://www.facebook.com/notes/pustaka-ilmu-sunni-salafiyah-ktb-piss-ktb/3184-hati-hati-memilih-menantunasehat-untuk-para-orang-tua-_/780643048625172

Wednesday, May 14, 2014

no image

KISAH MALAIKAT JIBRIL & MIKAIL MENANGIS


Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis.
Dia (iblis) lupa akibat urusannya. Maka Allah S.W.T telah memerintahkannya sujud kepada Adam. Lalu iblis berkata, “Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam daripada tanah.”

Lalu Allah S.W.T berfirman yang maksudnya, “Aku membuat apa yang aku kehendaki.” Oleh kerana iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam A.S kerana bangga dan sombong.
Dia berdiri tegak sampai saatnya malaikat bersujud dalam waktu yang berlalu. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud. Maka para malaikat bersujud lagi bagi kali kedua kerana bersyukur, tetapi iblis tetap angkuh dan enggan sujud. Dia berdiri tegak dan memaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikut mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas keengganannya.

Kemudian Allah S.W.T merubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan kepada bentuk seperti babi hutan. Allah S.W.T membentukkan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.


Setelah itu, lalu Allah mengusirnya dari syurga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi. Allah S.W.T melaknatinya sehingga ke hari kiamat kerana dia menjadi kafir. Walaupun iblis itu pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap emapt, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.

Ketika Allah S.W.T membalas tipu daya iblis, maka menangislah Jibril A.S dan Mikail. Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, “Apakah yang membuat kamu menangis?” Lalu mereka menjawab, “Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu.”
Firman Allah bagi bermaksud, “Begitulah aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu dayaku.”
Setelah diusir, maka iblis pun berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Syurga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu.”

Lalu Allah berfirman yang bermaksud, “Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum.”
Berkata lagi iblis, “Tambahkanlah lagi untukku.” Allah berfirman yang maksudnya, “Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya.”
Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.” Lalu Allah berfirman dengan maksud, “Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah.”
Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.” Maka Allah berfirman lagi yang bermaksud, “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki, ertinya mintalah tolong menghadapi mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda mahupun yang berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, iaitu mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke dalam haram.”

“Dan pada anak-anak, iaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah agama yang batil, mata pencarian yang tercela dan perbuatan-perbuatan yang jahat dan berjanjilah mereka.” (Hal ini ada disebutkan dalamsurah al-Isra ayat 64 yang bermaksud : “Gerakkanlah orang yang engkau kuasai di antara mereka dengan suara engkau dan kerahkanlah kepada mereka tentera engkau yang berkuda dan yang berjalan kaki dan serikanlah mereka pada harta dan anak-anak dan berjanjilah kepada mereka. Tak ada yang dijanjikan iblis kepada mereka melainkan (semata-mata) tipuan